100 Hari LMI-Dinda, Udah Ngapain Aja Sih !?

Catatan Redaksi, JEJAKNTB.COM |Dulu sebelum masa kampanye atau sebelum paket Iqbal-Dinda jadi ekpektasi publik sangat tinggi kepada beliau berdua, hal tersebut ditandai dengan kemenangan LMI -Dinda secara mutlak hampir di semua Kabupaten/Kota Se- Nusa Tenggara Barat. Malah branding dibangun NTB Makmur Mendunia, nah inilah ekspektasi yang ditunggu- tunggu itu.

Sejak dilantik 20 Februari 2024 lalu di Istana Negara bersama lebih kurang 500 kepala Daerah, Pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dibawah kendali Lalu Muhammad Iqbal (LMI) – Dinda Dhamayanti Putri belum menunjukkan aktifitas membanggakan publik padahal waktu pengabdiannya telah memasuki seratus hari kerja. Seratus hari kerja bukan patokan dan parameter utama serta tidak ada tuntutan secara normatif regulatif-nya namun di seratus hari kerja itu juga cerminan awal ke mana Bumi Gora ini hendak dibawa ?

Dalam seratus hari itu idealnya gagasan dan visi besar itu teraktualisasikan , ada stepnya, ada guide-lines. Ada jembatan dan ada cara serta ada aktifitas yang menunjuk ke arah itu. Nah, 100 hari ini tidak ada kewajiban tertentu secara normatif, ada regulasi nya bahwa harus selesei tentu tidak juga. Tetapi itu menjadi indikatir penting bahwa ekspektasi itu bisa dijawab oleh LMI-Dinda.

Sampai sejauh ini penulis belum melihat , secara pribadi apa sih, indikator menuju NTB Makmur Mendunia itu? Kalau kita coba bandingkan dengan sebelum-sebelumnya konkret lah. Contohnya saja Bang Zul di era kepemimpinannya break-downnya jelas NTB Gemilang itu tentang Seribu Cendekia , soal zero waste, soal apa aja, soal industrialisasi semuanya tereksplisit dan konkrit.

Nah, sejauh ini penulis belum melihat LMI menunjukkan itu, kami mahfum RPJMD belum disyahkan, anggaran belum ada, kami maklumi namun step itu wajib ada tapi bukan harus konkrit. Seharusnya janji Iqbal anggaran per desa 300 juta harusnya itu eksplisit nya seperti apa. Konsepnya seperti apa, ini khan belum diceritakan ke publik, janji Iqbal menaikkan status rumah sakit dari level D ke A itu di Pulau Sumbawa. Bukan soal realisasinya tetapi state nya apa sih sehingga ada ekspektasi publik itu langsung terjawab.

Kemudian Meritokrasi. Hemat penulis masih ini ideas dan gagasan bukan konkritisasi bahwa semua orang itu harus profesional dll. Bahwa semua orang itu bisa bekerja sesuai tuntutan profesional birokrasi dll, bukan. Tapi dengan meritokrasi itu para pegawai rajin bekerja, staf-staf itu bekerja sesuai SOP. Ada itikad baik dan budaya-budaya baru , kinerja dan target pencapaian kinerja serta output dan outcomesnya yang jelas. Nah, indikator – indikator ini belum saya lihat dan belum lagi, survei terakhir BPS menyatakan bahwa pak Iqbal rapat dengan Mendagri secara eksplisit bahkan menegur bahwa Kemendagri mengatakan soal indikator perekonomian kita turun ke level 1,47%.

LMI-Dinda lagi lagi tidak boleh ber-apologize bahwa belum bisa melakukan karena dana dan anggaran harusnya perspektif itu sudah terbangun, sudah dibedah, sudah diketahui sehingga tidak meraba-raba dan mengatakan akan, akan, akan.

Sehingga tidak boleh ada jawaban kami belum ada anggaran, kami harus menunggu budget dan lain sebagainya, Itu tidak boleh ada, karena konsep dan platform itu seharusnya terbangun. Hingga soal mutasi dan rotasi yang menurut saya hanya pencitraan yang seolah-olah mengatakan bahwa LMI-DINDA bisa melakukannya tanpa ribet dan lain-lainnya padahal mutasi yang dilakukan nya sangat jauh dari prinsip meritokrasi dan terkesan sangat dipaksakan.

LMI- Dinda masih stagnan, belum utuh dan menyeluruh serta kaffah caranya dalam menata dan membenahi birokrasi di Nusa Tenggara Barat

Tagline Nusa Tenggara Barat Mendunia masih diawang-awang, masih fatamorgana, sebuah rencana, masih sebatas angan angan dan wacana besar dengan mimpi-mimpi besarnya. Penulis masih melakukan perenungan dan kontemplasi juga sesungguhnya Iqbal -Dinda ini telah berbuat apa selama seratus hari di Bumi Gora ini.

LMI terpantau di berbagai timeline pemberitaan selalu bermain diksi dengan kata akan, akan dan akan sebanyak 22 diksi diberbagai platform, ini hemat kita tidak efektif dan bukan tipe kepemimpinan yang ideal dan efektif adanya.

Dalam benak kami ini semua hal yang masih direncanakan , LMI saat ini bukan sebagai Calon Gubernur NTB melainkan telah menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat Periode 2024-2030, kita belum melihat adanya good inisiatif untuk mewujudkan visi NTB Makmur Mendunia.

 

 

(Bersambung……

 

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top