NEGERI YANG TERLALU RAMAI UNTUK MENDENGAR

NEGERI YANG TERLALU RAMAI UNTUK MENDENGAR

 

Karya: Dr. Asep Tapip Yani

 

BAGIAN I:

Puisi-Puisi tentang Kekuasaan, Rakyat, Demokrasi, dan Kesunyian yang Kita Pelihara Bersama

PROLOG:

NEGERI INI TIDAK SEDANG DIAM

Negeri ini tidak sedang diam.

Ia hanya terlalu ramai oleh suara-suara yang saling berebut menjadi benar.

Di televisi, orang-orang berbicara tentang rakyat.

Di gedung-gedung tinggi, orang-orang berbicara atas nama rakyat.

Di panggung-panggung politik, rakyat disebut berkali-kali

hingga namanya terdengar sakral.

Tetapi entah mengapa, ketika rakyat benar-benar berbicara,

suara itu tiba-tiba menjadi gangguan.

Mungkin negeri ini bukan kekurangan suara.

Mungkin negeri ini kekurangan telinga.

I

DEMOKRASI DI ETALASE

Demokrasi kita indah ketika dipajang.

Ada bendera. Ada bilik suara. Ada surat suara. Ada kampanye. Ada janji.

Ada rakyat yang datang membawa harapan dan pulang membawa jari bertinta.

Lalu kita berkata: Demokrasi telah selesai.

Benarkah?

Bukankah demokrasi bukan hanya tentang siapa yang kita pilih, tetapi juga

apakah setelah dipilih ia masih mau mendengar?

Sebab demokrasi tidak mati ketika pemilu ditiadakan.

Demokrasi bisa mati ketika pemilu tetap ada, tetapi rakyat tak lagi punya kuasa untuk mempertanyakan ke mana suara mereka dibawa.

II

NEGERI PARA PEMILIK AKSES

Di negeri ini, pintu tidak selalu dibuka oleh kunci.

Kadang oleh nama. Kadang oleh hubungan.

Kadang oleh telepon dari seseorang yang bahkan tidak pernah mengantre.

Maka jangan heran jika seorang yang sangat kompeten terkalahkan oleh seseorang

yang sangat dikenal.

Jangan heran jika prestasi harus memperkenalkan dirinya berulang kali, sementara kedekatan cukup memperkenalkan nama.

Di sini, kompetensi kadang berjalan kaki,

sedangkan koneksi datang dengan kendaraan dinas.

Dan kita masih bertanya: Mengapa banyak orang hebat memilih pergi?

Mungkin bukan karena mereka tidak mencintai negeri ini.

Mungkin mereka hanya lelah mengetuk pintu yang sejak awal tidak dibuat untuk mereka.

III

JABATAN

Jabatan, seharusnya adalah amanah.

Tetapi kadang ia berubah menjadi hadiah.

Diberikan bukan kepada yang paling mampu, melainkan kepada yang paling dekat.

Maka lahirlah sebuah negeri di mana loyalitas lebih cepat naik pangkat daripada integritas.

Orang bertanya: “Siapa orangnya?”

Bukan: “Apa kemampuannya?”

Orang bertanya: “Dari kelompok mana?”

Bukan: “Apa rekam jejaknya?”

Dan perlahan, kita mengubah negara menjadi ruang keluarga.

Yang satu mendapat kursi. Yang lain mendapat proyek. Yang lain mendapat jabatan. Yang lain lagi mendapat kesempatan.

Sementara rakyat mendapat pidato.

IV

RAKYAT SEBAGAI ANGKA

Kami sering disebut angka.

Angka kemiskinan. Angka pengangguran. Angka pertumbuhan. Angka penerima bantuan. Angka partisipasi. Angka elektabilitas.

Kami dihitung. Kami dipetakan. Kami disurvei. Kami diproyeksikan.

Tetapi jarang kami benar-benar ditanya: “Apa yang sebenarnya kalian rasakan?”

Sebab angka tidak menangis.

Angka tidak lapar. Angka tidak kecewa. Angka tidak kehilangan pekerjaan.

Angka tidak tahu bagaimana rasanya menyekolahkan anak dengan penghasilan yang pas-pasan.

Angka hanya naik dan turun di layar presentasi.

Dan ketika grafik terlihat indah, kita menyebutnya: kemajuan.

V

PARA PENGUASA KATA

Di negeri ini kata-kata sangat murah.

Reformasi. Transformasi. Kolaborasi. Inovasi. Akselerasi. Digitalisasi. Hilirisasi. Revolusi.

Semua terdengar hebat.

Tetapi rakyat tidak hidup dari kata-kata.

Rakyat hidup dari beras yang cukup, sekolah yang layak, pekerjaan yang bermartabat, hukum yang adil, dan masa depan yang tidak membuat mereka takut.

Maka jangan terlalu bangga dengan kata-kata besar jika kenyataan masih terlalu kecil

untuk menampungnya.

Sebab sebuah negeri tidak menjadi maju karena pandai menciptakan slogan.

Negeri menjadi maju ketika kehidupan rakyat benar-benar berubah.

VI

HUKUM

Hukum katanya adalah panglima.

Tetapi kadang panglimanya bingung:

harus tunduk kepada keadilan atau kepada kekuasaan?

Di pengadilan, yang dicari seharusnya adalah kebenaran.

Tetapi masyarakat sering melihat pertarungan antara uang, pengaruh, dan keberanian.

Dan ketika hukum terlihat berbeda di hadapan orang berbeda,

rakyat belajar sebuah pelajaran yang sangat berbahaya:

bahwa keadilan mungkin bukan hak, melainkan fasilitas.

Padahal, jika hukum kehilangan rasa adilnya, negara tidak langsung runtuh.

Yang runtuh lebih dahulu adalah kepercayaan.

Dan ketika kepercayaan sudah mati, undang-undang hanya tinggal tulisan.

VII

KITA YANG MEMILIH DIAM

Jangan hanya menyalahkan mereka yang berkuasa.

Sebab mungkin ada sedikit kesalahan di dalam diri kita.

Kita melihat. Kita tahu. Kita merasakan.

Tetapi kita diam. Karena takut.

Takut kehilangan pekerjaan. Takut kehilangan jabatan. Takut kehilangan teman. Takut disebut pembangkang. Takut dianggap tidak loyal.

Akhirnya kita belajar satu keterampilan baru:

menyimpan kebenaran di dalam mulut.

Kita menjadi pintar mengangguk. Pintar tersenyum. Pintar bertepuk tangan.

Pintar mengatakan: “Siap!”

Padahal di dalam hati kita tahu: ada sesuatu yang salah.

Dan mungkin itulah tragedi terbesar sebuah bangsa.

Bukan ketika kebohongan terlalu banyak.

Tetapi ketika orang-orang yang mengetahui kebenaran terlalu takut untuk mengatakannya.

VIII

KETIKA JUJUR MENJADI RADIKAL

Aneh sekali.

Orang yang korup bisa disebut terhormat jika memiliki jabatan.

Orang yang menjilat bisa disebut loyal.

Orang yang diam bisa disebut bijaksana.

Tetapi orang yang berkata jujur kadang disebut: radikal. provokator. pembangkang. tidak tahu diri.

Maka barangkali kita perlu mendefinisikan ulang apa arti kewarasan.

Sebab mungkin, di negeri yang terbiasa dengan kepalsuan, orang yang jujur akan terlihat aneh.

Dan di negeri yang terlalu lama berdamai dengan ketidakadilan, orang yang mempertanyakan ketidakadilan akan dianggap berbahaya.

IX

NEGERI YANG KITA WARISKAN

Suatu hari anak-anak kita akan bertanya:

“Seperti apa negeri kalian dulu?”

Apa yang akan kita jawab?

Bahwa kami pernah melihat ketidakadilan tetapi memilih diam?

Bahwa kami pernah melihat nepotisme tetapi pura-pura tidak tahu?

Bahwa kami pernah melihat kebenaran diperdagangkan, tetapi kami memilih menyelamatkan diri sendiri?

Atau kita akan berkata:

“Kami pernah hidup di zaman yang sulit, tetapi kami tidak menyerah untuk membuatnya lebih baik.”

Sebab bangsa bukan hanya diwariskan melalui tanah.

Bangsa diwariskan melalui nilai.

Dan mungkin warisan terbesar kita kepada anak-anak bukanlah rumah, bukanlah jabatan, bukanlah harta, melainkan sebuah negeri yang masih memiliki kejujuran untuk dipercaya.

X

PERTANYAAN TERAKHIR

Barangkali negeri ini tidak sedang kehilangan demokrasi.

Barangkali kita yang perlahan kehilangankeberanian untuk menjaganya.

Barangkali hukum tidak sedang kehilangan kekuasaan.

Barangkali kita yang terlalu sering membiarkan kekuasaan menguasai hukum.

Barangkali rakyat tidak sedang kehilangan suara.

Barangkali suara itu sengaja dibuat kecil oleh mereka yang takut mendengarnya.

Dan barangkali, masalah terbesar negeri ini bukan siapa yang sedang berkuasa.

Tetapi: apa yang kita lakukan ketika kekuasaan mulai lupa bahwa ia berasal dari rakyat?

EPILOG

JANGAN TANYA APA YANG SALAH DENGAN NEGERI INI

Jangan tanyakan kepadaku apa yang salah dengan negeri ini.

Negeri ini tidak salah.

Ia hanya sedang mencerminkan kita.

Jika kita korup, ia menjadi korup.

Jika kita takut, ia menjadi sunyi.

Jika kita menjual kejujuran, ia kehilangan harga dirinya.

Jika kita membiarkan kekuasaan berjalan tanpa kendali, ia akan berjalan sejauh yang kita izinkan.

Maka mungkin perubahan tidak selalu dimulai dari istana.

Tidak selalu dari parlemen.

Tidak selalu dari pengadilan.

Tidak selalu dari jalanan.

Kadang perubahan dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: seseorang yang memilih untuk tidak berbohong ketika semua orang sedang belajar berbohong.

Seseorang yang memilih untuk tidak menjilat ketika semua orang sedang berebut kursi.

Seseorang yang berani berkata: “Tidak.”

Ketika semua orang mengatakan: “Siap.”

Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak diselamatkan oleh banyaknya orang yang berteriak.

Tetapi oleh cukup banyak orang yang masih berani memegang kebenaran ketika kebenaran sudah tidak populer.

Dan mungkin, di tengah negeri yang terlalu ramai untuk mendengar, kita hanya perlu satu hal: keberanian untuk mulai berbicara dengan suara hati sendiri.

 

BAGIAN II:

Ketika Nurani Menolak Tunduk

XI

ISTANA

Istana selalu tampak tinggi dari kejauhan.

Dindingnya kokoh. Pintunya besar. Lampunya terang.

Tetapi jangan kira ketinggian membuat seseorang mampu melihat semuanya.

Sebab dari tempat yang terlalu tinggi, jeritan rakyat sering terdengar seperti angin.

Tangisan orang miskin terlihat seperti statistik.

Keluhan guru menjadi laporan.

Keresahan petani menjadi data.

Dan kemarahan rakyat kadang cukup dijawab dengan konferensi pers.

Padahal kekuasaan bukanlah mahkota.

Ia adalah amanah yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi pertanggungjawaban.

Maka jangan terlalu lama duduk di kursi kekuasaan.

Sebab kursi yang terlalu nyaman sering membuat manusia lupa: bahwa ia bukan pemilik negeri, ia hanya sedang dititipi negeri.

XII

PARLEMEN

Di sana suara rakyat dikumpulkan.

Satu kursi mewakili ribuan suara.

Tetapi betapa ironisnya, kadang suara rakyat begitu keras ketika pemilu, lalu begitu pelan

ketika kursi sudah diduduki.

Janji pernah diteriakkan.

Spanduk pernah dibentangkan.

Tangan pernah diangkat untuk bersumpah.

Tetapi kekuasaan punya satu penyakit: ia mudah membuat manusia lupa kepada suara yang dahulu mengantarkannya.

Wahai para pemilik mandat, jangan hanya ingat siapa yang memilihmu.

Ingat pula: siapa yang akan menanggung akibat dari keputusanmu.

XIII

BIROKRASI

Di lorong-lorong birokrasi, berkas berjalan lebih cepat daripada manusia.

Stempel lebih berkuasa daripada akal sehat.

Prosedur kadang menjadi dewa kecil yang disembah tanpa pernah ditanya untuk apa ia diciptakan.

Padahal birokrasi seharusnya menjadi jembatan. Bukan tembok.

Pelayan public seharusnya melayani. Bukan meminta dilayani.

Sebab ketika jabatan membuat seorang pelayan merasa lebih tinggi daripada yang dilayaninya, maka ada sesuatu yang telah terbalik.

Dan negeri ini tidak kekurangan aturan.

Ia kekurangan manusia yang mampu menggunakan aturan dengan hati nurani.

XIV

PARA PENJILAT

Mereka selalu ada.

Di setiap zaman.

Di setiap kekuasaan.

Mereka tidak pernah benar-benar mencintai kebenaran.

Mereka mencintai arah angin.

Jika angin ke kanan, mereka ke kanan.

Jika angin berbalik, mereka berbalik.

Jika penguasa tersenyum, mereka tertawa.

Jika penguasa marah, mereka ikut marah.

Mereka menyebutnya loyalitas.

Padahal itu bukan loyalitas.

Itu adalah ketakutan yang mengenakan jas.

Sebab loyalitas sejati bukan mengatakan:“Bapak selalu benar.”

Loyalitas sejati berani mengatakan: “Bapak keliru.”

Sebelum kesalahan kecil berubah menjadi kehancuran besar.

XV

ORANG-ORANG YANG MENOLAK DIAM

Tetapi jangan khawatir.

Negeri ini belum selesai.

Masih ada orang-orang yang menolak diam.

Guru yang tetap mengajar meski fasilitas terbatas.

Petani yang tetap mencangkulmeski harga tak selalu adil.

Buruh yang tetap bekerja meski upah belum sebanding dengan keringat.

Mahasiswa yang masih bertanya.

Jurnalis yang masih menulis.

Akademisi yang masih berpikir.

Seniman yang masih menyindir.

Dan rakyat biasa yang setiap pagi bangun untuk bekerjatanpa pernah meminta namanya ditulis dalam sejarah.

Mereka mungkin tidak punya istana.

Tidak punya kendaraan dinas.

Tidak punya pengawal.

Tidak punya mikrofon.

Tetapi mereka punya sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi kekuasaan yang korup: nurani.

XVI

JANGAN TAKUT MENJADI SENDIRIAN

Kadang kebenaran memang membuatmu sendirian.

Ketika semua orang mengangguk,kau memilih bertanya.

Ketika semua orang diam, kau memilih berbicara.

Ketika semua orang membungkuk, kau memilih berdiri.

Jangan takut.

Sejarah tidak selalu dimulai dari kerumunan.

Kadang sejarah dimulai dari satu manusia yang berkata: “Aku tidak setuju.”

Lalu satu orang menjadi dua.

Dua menjadi sepuluh.

Sepuluh menjadi seratus.

Dan suatu hari, mereka yang dahulu dianggap terlalu berani, justru dikenang sebagai orang-orang yang menyelamatkan zaman.

Maka jangan takut menjadi suara kecil.

Sebab petir pun hanya satu suara sebelum langit ikut berbicara.

XVII

KETIKA WARAS MENJADI RADIKAL

Jika dunia mengatakan bahwa korupsi adalah hal biasa, maka tetaplah waras dengan mengatakan: “Tidak.”

Jika orang berkata bahwa nepotisme adalah tradisi, tetaplah waras dengan mengatakan: “Tidak.”

Jika orang mengatakan bahwa menjilat adalah strategi, tetaplah waras dengan mengatakan: “Tidak.”

Jika orang mengatakan bahwa kekuasaan boleh melakukan apa saja, tetaplah waras dengan mengatakan: “Tidak.”

Sebab mungkin, di zaman yang kehilangan batas, orang yang masih memiliki batas akan dianggap radikal.

Di zaman yang terbiasa berdusta, orang jujur akan dianggap aneh.

Di zaman yang memuja kekuasaan, orang yang membela kebenaran akan dianggap musuh.

Biarlah.

Lebih baik dianggap aneh karena mempertahankan kebenaran daripada dianggap normal karena terbiasa dengan kebohongan.

XVIII

REVOLUSI YANG TIDAK BERDARAH

Kita tidak membutuhkan revolusi dengan senjata.

Kita membutuhkan revolusi dalam kesadaran.

Revolusi ketika guru mengajar bukan karena takut kepada atasannya, tetapi karena cinta kepada muridnya.

Revolusi ketika pejabat bekerja bukan demi popularitas, tetapi demi kemaslahatan.

Revolusi ketika hakim menimbang perkara bukan berdasarkan siapa yang berdiri di hadapannya, tetapi berdasarkan kebenaran.

Revolusi ketika pemimpin mengerti bahwa rakyat bukan pengikut, melainkan pemilik mandat.

Revolusi ketika kita semua berhenti bertanya: “Apa yang bisa saya dapat?”

dan mulai bertanya: “Apa yang bisa saya berikan?”

Itulah revolusi yang sesungguhnya.

Tidak menumpahkan darah.

Tetapi menumpahkan ego.

Tidak menghancurkan gedung.

Tetapi menghancurkan keserakahan.

Tidak menggulingkan manusia.

Tetapi menggulingkan kesombongan.

XIX

KEPADA MEREKA YANG MASIH PERCAYA

Kepada mereka yang masih percaya bahwa negeri ini bisa berubah: jangan menyerah.

Kepada mereka yang masih percaya bahwa kejujuran punya masa depan: jangan menyerah.

Kepada mereka yang masih percaya bahwa pendidikan mampu mengubah peradaban: jangan menyerah.

Kepada mereka yang masih percaya bahwa kekuasaan harus tunduk kepada moral: jangan menyerah.

Sebab bangsa besar tidak dibangun oleh manusia-manusia yang hanya menunggu keadaan berubah.

Bangsa besar dibangun oleh mereka yang berani menjadi perubahan ketika keadaan belum berubah.

Mungkin kita tidak akan menyaksikan hasilnya.

Tidak apa-apa.

Tanamlah pohon meskipun mungkin bukan kita yang menikmati teduhnya.

Didiklah anak-anak meskipun mungkin bukan mereka yang akan mengucapkan terima kasih.

Perjuangkan kebenaran meskipun mungkin nama kita tidak pernah ditulis dalam sejarah.

Sebab perjuangan yang tulus tidak membutuhkan tepuk tangan.

Ia hanya membutuhkan keyakinan bahwa: yang benar tetap benar, meskipun seluruh dunia memilih mengatakan sebaliknya.

XX

DAN KITA AKHIRNYA BERDIRI

Pada akhirnya, kita akan sampai pada satu pertanyaan: Siapa yang akan menyelamatkan negeri ini?

Bukan dia. Bukan mereka. Bukan penguasa. Bukan oposisi. Bukan partai. Bukan parlemen. Bukan istana.

Jawabannya mungkin terlalu sederhana untuk sebuah pertanyaan sebesar ini: Kita.

Kita yang masih punya hati.

Kita yang masih punya akal.

Kita yang masih punya keberanian.

Kita yang masih bisa berkata jujur ketika berbohong lebih menguntungkan.

Kita yang masih bisa berkata tidak ketika semua orang mengatakan iya.

Kita yang masih bisa berdiri ketika banyak orang memilih membungkuk.

Sebab negeri ini tidak membutuhkan lebih banyak manusia yang pandai memuji kekuasaan.

Negeri ini membutuhkan manusia yang berani mengingatkan kekuasaan tentang batasnya.

Dan jika suatu hari anak cucu kita bertanya: “Apa yang kalian lakukan ketika negeri ini hampir kehilangan arahnya?”

Semoga kita tidak menjawab: “Kami hanya menonton.”

Semoga kita bisa berkata: “Kami berdiri.”

Ketika kebohongan merajalela, kami berdiri.

Ketika ketidakadilan mengeras, kami berdiri.

Ketika kebenaran disingkirkan, kami berdiri.

Ketika nurani dipaksa diam, kami berdiri.

Bukan karena kami paling berani. Bukan karena kami paling kuat.

Tetapi karena kami sadar: jika semua orang memilih tunduk, maka ketidakadilan akan mengira bahwa ia telah menjadi kebenaran.

Maka berdirilah.

Bukan untuk melawan manusia. Tetapi untuk melawan kesewenang-wenangan.

Bukan untuk membenci kekuasaan. Tetapi untuk mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah.

Bukan untuk menghancurkan negeri. Tetapi untuk menyelamatkan masa depannya.

Dan bila suatu hari suara kita akhirnya hilang, biarlah jejak kita tetap tinggal: sebagai bukti bahwa pernah ada manusia yang hidup di zaman yang bising, namun memilih mendengarkan nurani.

Pernah hidup di zaman ketika kebohongan menjadi biasa, namun memilih tetap jujur.

Pernah hidup di zaman ketika banyak orang membungkuk, namun memilih tetap berdiri.

Sebab terkadang, kepahlawanan bukanlah tentang memenangkan pertarungan.

Kepahlawanan adalah menolak menjadi bagian dari keburukan yang sedang kita lawan.

@@@@@@@@@

 

 

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top